pulau simeulue

Semua ini Allah yang mengatur, Allah masih sayang sama kami.
Sewaktu Tsunami terjadi banyak yang mengira Pulau Simeulue sudah tenggelam.
Hanya karena kuasa Allah lah kami masih bisa hidup………

Begitulah komentar salah seorang tokoh masyarakat yang penulis temui di tempat pengungsian di Bukit Sirenta (Maret 2005), Desa Labuan Bhakti, Kecamatan Teupah Selatan, kurang lebih 30 Km dari Sinabang Ibu Kota Kabupaten Simeulue. Memang, ketika gempa yang kemudian disusul dengan gelombang Tsunami menluluhlantahkan Propinsi Aceh Darussalam (NAD) tidak seorangpun menyangka jika pulau ini masih ada.
Betapa tidak, daerah episentrum (pusat gempa) hanya berjarak sekitar 41 mil dari pulau ini.Tepatnya pusat gempa berada di sekitar Pulau Tepi, salah satu pulau kecil yang berada di Kabupaten Simuelue. Tetapi kondisi kerusakan dipulau ini serta jumlah korban tidaklah semengerikan di Meulaboh yang berjarak sekitar 105 mil dari pulau ini. Jika menurut hitungan ilmiah, Pulau Simeulue pastilah sudah tenggelam dihantam gempa dan Tsunami.

Memang jika Tuhan berkehendak, apapun bisa terjadi. Menurut salah satu pengungsi yang penulis temui di Kecamatan Alafan (wilayah yang paling parah terkena tsunami) mengatakan, ketika dia melaut melihat ombak yang tingginya melebihi Gunung Sibao menuju daratan. Tapi entah mengapa tiba-tiba sebelum mencapai daratan ombak tersebut berbalik arah, kembali ke tengah laut. “Mungkin balikan ombak yang menuju Simuelue inilah yang menghantam Meulaboh”, katanya.

Perlu diketahui bahwa Gunung Sibao adalah Gunung sekaligus daratan tertinggi yang ada di Pulau Simuelue. Dengan ketinggian sekitar 600 meter diatas permukaan air laut (dpa). Sebagian besar daratan di pulau ini berada pada ketinggian 0-300 meter dpa. Dalam artian jika ombak yang gagal menuju Pulau Simeulue tingginya melebih gunung Sibao, dapat dibayangkan pulau ini pasti sudah tenggelam. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, pulau ini selamat dari kehancuran total. Dari 78 ribu penduduk yang menghuni pulau ini, hanya tujuh orang yang meninggal dunia dan sekitar 20 ribu penduduk yang mengungsi. Padahal hingga dua hari pasca bencana, pulau ini diberitakan sudah tenggelam.

Gambaran Daerah yang Terkena Bencana

Dari delapan kecamatan dan 135 desa yang yang di Simeulu, hampir seluruh penduduk Simeulue yang berada di dekat pantai mengungsi ketika hari pertama dan kedua gempa dan tsunami terjadi. Namun memasuki hari ketiga pengungsi yang rumah dan desanya tidak terkena gempa dan tsunami sudah kembali ke desa masing-masing. Bagi pengungsi yang rumah dan desanya hancur oleh tsunami, hingga sekarang sebagian besar masih tinggal dipengungsian.

Gempa dan tsunami yang titik episentrumnya hanya berjarak sekitar 40 mil dari pulau ini, tepatnya berada di sekitar Pulau Tepi (salah satu dari 41 pulau yang ada di Simeulue) sempat membuat panik penduduk Simuelue. Sebagian besar desa-desa yang berada dipinggiran pantai rusak berat bahkan ada yang rata dengan tanah. Namun desa-desa yang berada yang jauh dari pantai, atau yang berada di dataran yang tinggi tidak tersentuh oleh bencana.

Kecamatan yang 90% lebih desanya hancur akibat gempa dan tsunami adalah di Kecamatan Teupah Barat, dan Kecamatan Alafan. Di Teupah Barat desa-desa yang terkena gempa dan tsunami adalah, Silengkas, Bunon, Angkeo, Laayon, Naibos, Inor, Maudil, Nancala, Salur, Awe Kecil dan Lantik. Sedang di Kecamatan Alafan desa-desa yang terkena gempa dan tsunami adalah, Lewak, Lhok Pauh, Lamereum, Paparas, Langi, Lubuk Baik, Lhok Dalam dan Lafakah.
selanjutnya..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: