sunda kelapa

Alam bawah laut Karangasem dikenal indah. Selain gugusan terumbu karangnya, juga terdapat banyak jenis ikan hias bahkan ikan langka. Objek wisata laut/pantai banyak dibuka di sejumlah pantai di Karangasem. Wisatawan mancanegara maupun lokal banyak terjun snorkeling atau pun diving di pantai Karangasem, seperti Tulamben, Jemeluk atau Padangbai.

Atraksi bawah laut menikmati keindahan alam bawah laut lewat kapal selam, juga sudah ada di pantai Manggis, Karangasem tepatnya di pantai Labuan. Nyoman Suarjana, S.Sos., salah satu warga lokal yang pernah menikmati alam laut Labuhan Amuk dengan kapal selam itu. Suarjana yang juga Kasubag Dokumentasi dan Pengumpul Informasi Humas Pemkab Karangasem itu mengatakan, sangat terkesan dengan keindahan alam bawah laut Karangasem.

”Sebelum terjun menikmati keindahan alam bawah laut Karangasem dengan kapal selam di Labuhan Amuk, saya hanya membaca atau mendengar bahwa bawah laut Karangasem menyimpan aset keindahan alam dan ikan yang tak ternilai. Setelah tahu kenyatannya, baru kita takjub akan kebesaran Tuhan,” katanya.

Tinggal kini, kita bersama baik investor atau pun masyaralat luas, nelayan, penangkap ikan hias mesti menyadari semua itu. Sebagai anugerah Tuhan yang besar, semua mesti menjaganya agar tetap lestari. Jangan tergiur kepentingan dan mencari keuntungan sesaat dengan mengeksploitasi kekayaan laut secara tak bertanggung jawab. Misalnya menangkap ikan dengan bahan peledak, bahan kimia atau mengambil pasir laut dan karang laut yang akan merusak habitat laut, paparnya.

Di sini kebijakan politik seorang pemimpin sangat menentukan. Soalnya, tanpa kebijakan yang bersifat melestarikan alam sesuai konsep Tri Hita Karana, maka alam makin tak terpelihara. Alam rusak karena ulah manusia, alam tak mungkin merusak dirinya sendiri. Contohnya, hutan yang tak pernah dijamah manusia tetap kondisinya lestari, tidak rusak.

Suarjana menyatakan tak sepakat kalau alam bawah laut seperti terumbu karang rusak, atau terjadinya abrasi pantai seperti di selatan Labuhan Amuk akibat alam itu sendiri. Namun pasti ada akibat dari campur tangan manusia dalam jangka waktu yang lama. ”Kita harus terfokus memelihara alam, termasuk alam laut karena sumber kehidupan kita ada di sana,” katanya.

Menikmati atraksi bawah laut dengan kapal selam di Labuhan Amuk, menurut seorang nakhoda kapal selam setempat menempuh waktu pergi-pulang sekitar 45 menit. Dari jendela kaca di kiri dan kanan badan kapal, bisa dinikmati alam bawah laut. Berbagai ikan hias, seperti jenis sersan mayor, disebut begitu karena badan ikan ini memiliki strip empat warga biru. Guna menarik ribuan ikan-ikan hias ini berkumpul di sisi kiri dan kanan badan kapal, beberapa penyelam menariknya dengan memberi pakan yang ditaruh di dalam botol. Ribuan ikan akan berebut dan mengejar makanan dari penyelam ini.

Gugusan terumbu karang warna-warni dari gugusan lanjutan perbukitan di bawah laut, juga cukup menakjubkan. Namun sayang terumbu karang itu banyak yang mati, rusak atau hancur. Kerusakan terumbu karang bawah laut di Labuhan Amuk menurut anggota rombongan jurnalis yang beberapa bulan lalu melihatnya lewat kapal selam, berkisar 30%. Pilot kapal selam membantah kerusakan terumbu karang karena beroperasinya kapal selam di sana. Soalnya, kerusakan itu sudah terjadi saat kapal selam beroperasi di sana. Kapal selam juga tak mungkin menyentuh dasar laut atau terumbu karang itu, karena akan membahayakan kapalnya sendiri.

Selama ini, belum ada upaya perbaikan misalnya dengan penanaman kembali. Selama ini, investor setempat mengatakan dengan adanya investasi kapal selam dan mempekerjakan puluhan masyarakat lokal, diyakini perusakan karena faktor manusia tak ada lagi. Tak ada lagi pengambilan batu karang, karena sudah ada lapangan kerja baru sebagai pengganti pencarian batu karang. Dengan mengetahui manfaat wisata bawah laut ternyata menarik dan mendatangkan keuntungan lebih besar dibandingkan mengambil karang laut, masyarakat pun kian sadar pentingnya kelestarian alam bawah laut.
selanjutnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: